
Thaddeus Barker-Mill (kiri), Programme Support Officer dari Global Sports Programme UNOCT. (Dok. GGN Foundation)
KUTA – Olahraga memiliki peran penting untuk memerangi diskriminasi. Hal itu seperti yang dijelaskan dalam salah satu sesi seminar olahraga internasional yang digelar UNOCT dan Kemenpora di Discovery Kartika Plaza Hotel, Badung, Bali, Kamis (3/10/2024).
Sesi tersebut membahas bagaimana acara olahraga besar dapat menjadi platform penting untuk memperkuat pemahaman antarbudaya dan menyatukan masyarakat yang berbeda latar belakang. Selain itu, diskusi mendalami perbedaan antara diskriminasi dan ujaran kebencian, serta bagaimana olahraga bisa menjadi alat untuk memerangi kedua isu tersebut.
Menurut Thaddeus Barker-Mill, Programme Support Officer dari Global Sports Programme, UNOCT, diskriminasi adalah tindakan yang mendiskriminasi migran, minoritas, disabilitas, perempuan, dan kelompok lainnya. Sementara itu, ujaran kebencian adalah segala bentuk komunikasi yang bertujuan menyerang individu atau kelompok berdasarkan agama, etnis, atau identitas tertentu.
“Diskriminasi dalam olahraga kerap kali muncul dalam bentuk tindakan atau perilaku yang membatasi kelompok tertentu. Sedangkan ujaran kebencian lebih berfokus pada serangan verbal atau tindakan yang menyebarkan kebencian,” jelas Barker-Mill.
Ujaran kebencian merupakan peringatan dini terhadap ekstremisme, di mana semakin besar ujaran kebencian, maka potensi ekstremismenya juga semakin meningkat.
Tanggung Jawab Kolektif dalam Menghadapi Ujaran Kebencian
Barker-Mill menekankan bahwa tanggung jawab untuk menangani ujaran kebencian terletak pada semua pihak, termasuk individu, pemerintah, dan organisasi internasional.
“Kalau kita merujuk pada peraturan PBB, semua orang bertanggung jawab atas ujaran kebencian. Kita harus mengambil aksi secara kolektif untuk menangani hal ini,” tambahnya.
Menurut Barker-Mill, media sosial merupakan alat yang sangat berpengaruh dalam menyebarkan atau mencegah ujaran kebencian.
“Di satu sisi, media sosial bisa digunakan untuk menyebarkan pesan kebencian. Namun, di sisi lain, media sosial juga bisa menjadi instrumen penting dalam memerangi ujaran kebencian dan menyebarkan pesan damai,” katanya.
Barker-Mill menggarisbawahi pentingnya peran olahraga dalam menciptakan solidaritas dan melawan ujaran kebencian.
“Olahraga adalah salah satu alat terkuat untuk menggerakkan misi sosial. Ia mampu menciptakan identitas bersama dan memperkuat pemahaman lintas budaya,” tuturnya.
Pada 22 September 2024, para pemimpin PBB mengadopsi Deklarasi Masa Depan, yang mendukung promosi budaya inklusif dan damai, serta menggarisbawahi peran olahraga dalam mencapainya.
Melalui diskusi ini, seminar hari ketiga menegaskan bahwa diskriminasi dan ujaran kebencian merupakan dua masalah berbeda yang memerlukan pendekatan kolektif. Olahraga, dengan kekuatan menyatukannya, dapat menjadi alat ampuh untuk menghadapi kedua isu tersebut, sekaligus mempromosikan kohesi sosial dan membangun ketahanan komunitas.***
