
KUTA — Seminar olahraga internasional bertema “Harnessing the Power of Sports and its Values to Strengthen Social Cohesion and Impact on Community Resilience” diadakan di Discovery Kartika Plaza Hotel, Badung, Bali, Selasa (1/10/2024).
Dalam salah satu sesinya membahas tentang peran pelatih dan pendidik olahraga dalam membangun ketahanan dan koherensi sosial di komunitas.
Dalam sesi ini, Bram Van Haver dari selaku Programme Manager United Nations Alliance of Civilizations (UNAOC) menekankan pentingnya peran pelatih dan pendidik dalam mencegah ekstremisme di komunitas.
“Pelatih dan pendidik memainkan peran penting dalam mencegah ekstremisme di komunitas. Oleh karena itu, sangat penting untuk memberdayakan anak muda dalam memerangi radikalisme,” ujarnya.
Van Haver juga menyampaikan bahwa olahraga diakui sebagai sarana untuk mempromosikan perdamaian, memberdayakan perempuan, anak muda, dan komunitas.
Wakil Ketua Umum PSSI, Ratu Tisha Destria, membagikan pengalamannya melalui studi kasus Papua Football Academy.
“Pemain, wasit, dan pelatih adalah tiga stakeholder utama dalam sepak bola Indonesia. Kita perlu memahami snapshot regulasi di PSSI agar implementasinya semakin baik,” ucap Ratu Tisha Destria.
Dia juga menyoroti pentingnya prinsip FIFA Safeguarding dalam menjaga hak dan kebutuhan anak-anak dalam olahraga.
Satu hal menarik lainnya yang menjadi sarana dalam pemberdayaan pemuda adalah pencak silat. Itu terjadi di Pattani, Thailand. Seperti yang diungkapkan Project Manager Kenan Foundation Asia-Thailand, Prattana Samransuk.
“Kegiatan ini tidak hanya untuk anak muda, tetapi juga untuk orang tua dan masyarakat, memberikan dampak besar pada komunitas, terutama dalam hal resiliensi mental,” jelasnya.
Samransuk menekankan bahwa dengan memperkenalkan pencak silat, mereka dapat memberdayakan pemuda dan mendorong kepemimpinan di antara mereka.
Silvio Guareschi yang berposisi sebagai Technical Manager Inter Campus juga membahas bagaimana program ini bertujuan untuk memajukan akses bagi pemain muda.
“Kami ingin mencegah ekstremisme kekerasan dan memberikan makna dalam keberagaman melalui olahraga,” ungkapnya.
Guareschi menekankan bahwa interaksi sosial melalui kegiatan olahraga dapat menghilangkan hambatan, mendorong kohesi sosial dan meningkatkan keterampilan anak-anak.
Pelatihan pelatih olahraga juga dilakukan di kamp pengungsian Uganda. Hal itu diungkapkan Kato Ssekah Abdu, pendiri Integrated Community Development (ICODI).
Dia berbicara tentang proyek yang dilaksanakan di kamp pengungsian terbesar di Uganda.
“Kami melatih pelatih olahraga untuk membangun kerukunan sosial dan komunitas, membantu meningkatkan ketahanan fisik dan mental pengungsi,” katanya.
Abdu menekankan pentingnya interaksi sosial dalam mengurangi diskriminasi dan menciptakan rasa saling pengertian di antara para pengungsi.
Sesi kedua seminar ini menunjukkan bahwa pelatih dan pendidik olahraga memiliki peran vital dalam membangun ketahanan dan koherensi sosial di komunitas. Dengan berbagai pendekatan dan metode, mereka dapat memberdayakan generasi muda dan menciptakan masyarakat yang lebih harmonis. Melalui kolaborasi dan pembelajaran dari praktik terbaik, kekuatan olahraga dapat dimanfaatkan untuk mendorong perdamaian dan ketahanan di seluruh dunia.***
